Abusyakirin.com

Menyuluh Hati Mencari Cinta Ilahi

Penyakit orang-orang ‘muda’… 13/07/2010

Filed under: Ilmiah,Politik,Tazkirah,Tokoh,Ulama — abusyakirin @ 9:44 am

Penyakit orang-orang “muda” yang baru menapakkan kakinya beberapa langkah di dunia ilmu keislaman adalah mereka tidak mengetahui kecuali satu pendapat dan sudut pandang yang mereka dapatkan dari satu orang syeikh (guru). Mereka membatasi diri dalam satu madrasah dan tidak bersedia mendengar pendapat lainnya atau mendiskusikan pendapat-pendapat lain yang berbeda dengannya.

Anehnya, mereka ini melarang bertaqlid, padahal sebenarnya mereka sendiri bertaqlid. Mereka menolak mengikuti para imam terdahulu, tetapi mereka bertaqlid kepada sebahagian ulama masa kini.

Mereka bahkan menolak madzhab, padahal mereka sendiri menjadikan pendapatnya sebagai “madzhab kelima” dengan membelanya mati-matian dan menolak setiap orang yang berbeda pendapat dengannya.

Mereka menolak ilmu kalam klasik yang mengutamakan perdebatan kalamiah, tetapi sebenarnya mereka sendiri telah membuat “ilmu kalam baru” dengan pembicaraan mereka yang tidak memperhatikan penanaman aqidah di dalam hati, tetapi hanya mementingkan perdebatan sekitar masalah-masalah aqidah.

Sesungguhnya, sikap mereka terhadap kebenaran tak ubahnya seperti sikap orang-orang buta terhadap gajah dalam kisah India yang terkenal. Mereka tidak mengetahui gajah melainkan bahagian yang disentuh olehnya.

Seandainya mereka mahu memperluaskan wawasan, niscaya mereka akan mengetahui dan menyedari bahawa persoalan yang dihadapi itu lebih luas dari sekitar satu pendapat dan keanekaragaman pendapat itu dapat ditoleransi. Akan tetapi, yang penting adalah bersikap adil, meninggalkan fanatisme, dan mahu mendengarkan orang lain, sekalipun mungkin mereka lebih benar pendapatnya.

(Dr Yusuf Al-Qardhawi, Fiqhul Ikhtilaf)

 

Ibnu Taimiyah, Da’i dan Penghidup Sunnah 09/07/2009

Filed under: Tazkirah,Tokoh,Ulama — abusyakirin @ 3:43 am

Beliau adalah imam, qudwah, alim, zahid dan da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran mahupun jihadnya, syeikhul Islam, mufti Anam, pembela dinullah daan penghidup sunnah Rasul s.a.w. yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arab yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Isnin 10 Rabiulawal 661H.

Beliau berhijrah ke Damsyik bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinya. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib Ad-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan beliau.

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia . Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya . Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

DA`I, MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lariâ” Akhirnya dengan izin Allah Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.

Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara:

Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Zulhijjah 728 H dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh. Wallahua`lam.

 

Ummu Sulaim Al Ghuma Idha 15/06/2009

Filed under: Ilmiah,Keluarga,Tazkirah,Tokoh — abusyakirin @ 4:07 am

Ummu Sulaim, sifatnya tegas mengisahkan kejayaan seorang ibu dalam mendidik anak. Satu garis kebijaksanaan dan kesabaran dirinya menjadi seorang isteri pilihan yang terbaik.menyerahkan ketetapan dan pengabdian yang teguh kepada dasar agama Allah s.w.t untuk mendapatkan jannah (syurga).

Namanya Ghumaidha binti Maihan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundab bin Amin bin Ghunam bin Adi bin Najar Al Anshari Al Khazraji. Pada masa jahiliah dia menikah dengan Malik bin Nadhar dan melahirkan seorang anak yang bernama Anas bin Malik. Dia masuk islam bersama para assabiqunal awwalun (golongan pertama masuk islam ) dari golongan Ansar.

Ketika Ummu Sulaim telah beriman kepada Allah s.w.t *) dan Rasullulah s.a.w **) datanglah Abu Anas (Malik) dan bertanya; Apakah engkau telah murtad dari agamamu?” Ummu Sulaim menjawab,”Bahkan aku telah bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah”.

Kemudian Ummu Sulaim r.a menyuruh dan menuntun anaknya Anas,”Wahai anakku, ucapkanlah la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad rasulullah”. Anas mengiyakan dan mau mengucapkanya. Abu Anas (Malik) berkata kepada Ummu Sulaim r.a,” Janganlah kau merosak dan mempengaruhi anakku!” Ummu Sulaim menjawab, “ Aku tidak akan pernah merosakkanya”.

Malik keluar dengan menahan kemarahan. Dia pergi ke Syam membawa kemarahan. Di tengah jalan dia bertemu dengan musuhnya. Allah s.w.t menetapkan takdirnya. Di tangan musuh, dia menemui ajal pada saat jiwa dan hatinya bergelora marah.

Mendengar khabar suaminya meninggal, Ummu Sulaim berkata,”Saya tidak akan menahan Anas anakku sehingga ia berhenti sendiri (menangis ) dan aku tidak akan menikah sampai Anas menyuruhku”.

Ummu Sulaim pergi menemui Rasullulah s.a.w. Dengan rasa malu ia menyerahkan buah hatinya Anas bin Malik kepada Rasullulah s.a.w agar dijadikan pembantu Rasulullah s.a.w. Dengan harapan anaknya terbimbing dengan berbagai ajaran kebaikan. Rasullulah s.a.w menerimanya. Dan sejuklah hati dan perasaan Ummu Sulaim r.a.

Ketika itu, orang ramai mengatakan Anas bin Malik dan ibunya dengan pujian dan bangga. Hingga seorang yang bernama Abu Thalhah menyimpan rasa minat di hati dan kagum tersendiri terhadap Ummu Sulaim r.a. Datanglah ia kepada Ummu Sulaim untuk melamarnya. Ummu Sulaim r.a menolaknya kerana Abu Thalhah pada waktu itu masih musyrik (kafir). Ummu Sulaim r.a kemudian berkata, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah s.w.t. Jika engkau mau mengikutiku, maka aku akan menikah denganmu”. Abu Thalhah berkata” Aku beriman kepada sebagaimana engkau beriman” Maka menikahlah Ummu Sulaim r.a dengan Abu Thalhah dengan mahar (mas kawin) keislaman Abu Thalhah.

Telah diriwayatkan oleh Sulaiman bin Mughirah Tsabit r.a telah bercerita kepada kami dari Anas r.a, ia berkata,”Abu Thalhah meminang Ummu Sulaim r.a , kemudian Ummu Sulaim r.a berkata,” Sesungguhnya tidak sepatutnya aku menikah dengan seorang musyrik (kafir). Tidakkah engkau ketahui, wahai Abu Thalhah. Bahwa tuhan kalian diperbuat oleh keluarga fulan. Dan sesungguhnya jika engkau membakarnya pasti akan terbakar.”Anas r.a berkata” Maka Abu Thalhah pergi. Dalam hatinya ia membenarkan kata-kata Ummu Sulaim r.a. Datanglah ia kepada Ummu Sulaim r.a dan berkata,” Apa yang telah engkau tawarkan kepadaku telah aku terima.” Anas berkata ,“ Tiada mahar baginya (mas kahwin), kecuali dengan masuk islamnya Abu Thalhah”.

Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim r.a dengan mahar (mas kahwin) masuk islam. Ummu Sulaim r.a telah masuk islam sebelum Abu Thalhah. Kemudian Abu Thalhah melamarnya, maka Ummu Sulaim r.a berkata,” Jika kamu masuk islam, maka aku mau menikah dengan mu”. Akhirnya Ummu Sulaim r.a menikah dengan Abu Thalhah bin Zaid bin Sahl Al Anshari, dan mempunyai dua orang anak iaitu Abu Umair dan Abdullah. Ummu Sulaim r.a hidup dengan Abu Thalhah r.a sebagai suami isteri yang bernaung di bawah nilai-nilai keislaman yang rendang. Menikmati kehidupan dengan tenang dan penuh kebahagiaan

Ummu Sulaim r.a adalah pilihan seorang isteri yang memenuhi hak-hak suami dengan sebaik-baiknya. Dan ia contoh terbaik seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan
seorang dai’yah yang terbaik. Abu Thalhah mula memasuki madrasah imaniah melalui
isterinya. Sehingga ia boleh meminum air mata nubuwah yang menjadikannya setara dengan Ummu Sulaim r.a dalam hak kemuliaan.

Suatu saat Allah s.w.t berkehendak menguji kebahagiaanya dengan meninggalnya putera tercinta iaitu Abu Umair, kerana sakit kuat. Dia meninggal ketika Abu Thalhah r.a sedang keluar ke masjid. Kemudian Ummu Sulaim r.a menguruskan mayat anaknya dan berkata kepada anggota keluarganya,”Janganlah seorang pun mengabarkan kepada Abu Thalhah r.a tentang kematiannya”. Manakala Abu Thalhah r.a pulang, Ummu Sulaim r.a mempersiapkan makan malam. Juga mempersiapkan diri untuk melakukan kewajipan seorang isteri, hingga Abu Thalhah r.a menggaulinya (bersetubuh). Tatkala di akhir malam, maka berkatalah dia kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada seseorang mengirimkan barangnya kepada suatu keluarga, dan suatu saat mengambil kiriman tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?”Abu Thalhah r.a menjawab,”Tentu saja tidak boleh”. Ummu Sulaim r.a berkata lagi,” Bagaimana jika orang itu merasa berat hati kerana kiriman yang diambil kembali oleh tuan empunya diri setelah dia dapat memanfaatkanya?”Abu Thalhah berkata,” Berarti ia tidak adil”. Kemudian Ummu Sulaim r.a berkata,” Sesungguhnya anakmu adalah kiriman dari Allah s.w.t. Dan Allah s.w.t telah mengambilnya. tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu”.

Keesokkan harinya Abu Thalhah r.a pergi menghadap Rasullualah s.a.w dan menceritakan apa yang telah terjadi. Mendengar kata-kata Abu Thalhah r.a Rasullulah s.a.w bersabda yang bermaksud: “semoga Allah s.w.t memberkati malam kalian berdua”. Terkabullah apa yang dikatakan daripada mulut Rasullulah s.a.w. Setelah kematian Abu Umair, Ummu Sulaim r.a mengandung dan melahirkan seorang bayi lelaki, Ummu Sulaim mengajak Anas bin Malik untuk membawa bayi tersebut kepada Rasullulah s.a.w , dan Anas berkata,”Wahai Rasullulah Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam”, kemudian Rasullulah s.a.w mengunyah kurma dan mentahniknya (belah mulut). Anas r.a berkata,” Berilah dia nama, wahai Rasullulah”. Rasullulah s.a.w berkata,”Namanya Abdullah”.

Ummu Sulaim r.a termasuk orang yang berlimpah kemuliaan. Dia terlibat dalam perang Uhud dan perang Hunain. Dari sana ada cerita yang mengisahkan tentang keberanianya dalam membela agama dan kebencianya terhadap orang-orang kafir. Ummu Sulaim r.a membawa pisau besar dan berkata kepada Rasullulah s.a.w, “Wahai Rasullulah, jika ada orang musyrik mendekatiku, maka aku akan merobek perutnya dengan pisau ini”.

Ummu Sulaim r.a juga memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasullulah s.a.w. Rasullulah s.a.w sangat menyayanginya. Rasullulah s.a.w tidak pernah masuk selain rumah Ummu Sulaim r.a. Rasullulah s.a.w juga mengabarkan kabar gembira kepada Ummu Sulaim r.a, bahawa dia termasuk ahli jannah (penduduk syurga). Tsabit meriwayatkan dari Anas r.a, bahawa Rasullulah s.a.w bersabda, “Aku masuk syurga, tiba-tiba aku melihat Al Ghumaidah binti Maihan”.

Telah sempurnalah kebahagiaan Ummu Sulaim r.a. Memang dia berhak mendapat itu semua, kerana ketaatanya, kesabaranya, seorang dai’yah yang bijaksana, seorang pendidik yang baik. Dia telah memasukkan anaknya ke madrasah nubuwah sejak usia sepuluh tahun. Telah mendidik Abdullah bin Abu Thalhah menghafal Al Quran sejak usia tujuh tahun. Dia meriwayatkan hadis sebanyak 14 hadis sohih yang telah disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Satu hadis menyendiri dalam periwayatanya dan satu hadis Muslim hanya di riwayatkan oleh iman Muslim. Sungguh sangat agung amalan Ummu Sulaim r.a.

Ketegasan dan kesabaran daripada hamba Allah yang harus diteladani. Keberanian dan kecerdasanya selalu memberi sokongan kepada suami sehingga menyejukkan setiap pandangan. Membendung emosi , jiwanya dan jiwa si suami demi seutas erti pasrah kepada garis takdir. Semoga kami boleh mengikuti jejakmu…….ALLAHUA’LAM

Rujukkan:
-Al Ishbah Fii Tamyiizis Shahabah
-Siyar A’lamin Nubala’
-Sahih Muslim
-Sahih Bukhari
-*)Subhanahu wata’ala
-**)Sallallah ‘alaihi wasal lam

 

6 Tahun di Rumah Syaikh al-Albani 29/03/2009

Filed under: Dunia,Tokoh,Ulama — abusyakirin @ 1:02 am

syaikh_al-albani
Oleh: Abu Abdurrahman Muhammad Al Khatib

Pemergian Seorang Tokoh

Pada hari ini sabtu 2 oktober 1999 ribuan bahkan jutaan orang menangis, mereka menangis karena mendengar sebuah berita duka, yang merupakan musibah besar dengan wafatnya seorang Imam besar. Berita duka ini sampai kepadaku seusai shalat ashar hari ini dari istri beliau rahimahullah. Dengan serta merta aku menuju rumah sakit tempat beliau dirawat. Disana aku jumpai istri dan putra beliau Abdul Lathif yang menemani beliau selama masa perawatan. Setelah masuk kamar tiba-tiba kusaksikan dihadapanku jasad Syaikh rahimahullah yang telah ditutup dengan selembar kain, dibaringkan diatas sebuah tempat tidur. Air mataku mengalir tidak mampu menahan tangisan atas kepergiannya.

Kubuka wajahnya yang bercahaya lalu kucium keningnya. Kami mengangkat jasadnya untuk dimuat disebuah mobil milik salah seorang teman, lalu membawanya ke rumah duka. Ikut bersama kami di mobil jenazah, putra beliau Abdul Lathif. Ia sangat sedih dan banyak mengucurkan air mata. Kami menghibur dan menasihatinya untuk bersabar. Ia hanya memandang kami sedang kedua matanya meneteskan air mata yang banyak.

Keteguhan Sang Syaikh Dlm Berjuang

Abdul Lathif menceritakan kondisi ayahnya sehari sebelum wafat, ia berkata :

“Hingga kemarin dalam kondisi sakitnya yang semakin parah ayah masih sempat berkata :

“Berikan kitab shahih sunan Abi Dawud!!”

Aku katakan :

“Subhanallah (Maha suci Allah), semoga Allah swt membalas kebaikanmu ya Syaikh. Sungguh engkau telah hidup sepanjang usiamu, siang dan malam, engkau membela Sunnah Rasul saw hingga akhir hidupmu. Dalam kondisi tidak mampu menegakkan punggungmu, aku melihatmu menyuruh putra atau cucu-cucumu menulis, tanpa mengenal sakit dan tidak pula mengeluhkan kesakitanmu. Semua itu tiada lain kecuali anugerah dan keutamaan dari Allah swt yang diberikan kepadamu, maka Dia-lah yang maha pemberi karunia dan keutamaan.”

Pemakaman Sosok Tubuh yg Mulia

Sesampainya kami di rumah Syaikh, di sana kami jumpai beberapa teman yang telah mendahului kami dan mulailah para ikhwah berdatangan dari berbagai pelosok kota Amman , tempat Syaikh berdomisili selama lebih dari delapan belas tahun. Kami bergegas mempersiapkan jenazah Syaikh rahimahullah, memandikan dan mengafaninya. Begitu selesai menyiapkan, kami mengeluarkan dan meletakkannya di sebuah ruangan besar.

Seketika rumah Syaikh rahimahullah telah penuh sesak oleh pelayat yang terdiri dari para pecinta dan murid-muridnya. Syaikh Abu Malik mengisyaratkan kepada kami agar wajah Syaikh tidak ditutup sehingga para pelayat melepaskan kepergiannya. Mereka pun segera mencium kening Syaikh sebagai tanda perpisahan dengannya, lalu jenazah Syaikh disiapkan untuk dishalatkan.

Para ikhwan yang bermusyawarah tentang tempat pemakamannya, aku katakan kepada mereka bahwa Syaikh rahimahullah berulang-ulang menyebutkan kehendaknya di depanku, beliau ingin dikuburkan dipemakaman yang terletak pada sisi jalan yang menuju ke rumahnya agar tetap mendapat ucapan “salam” dari saudara-saudara dan pecintanya.

Di antara wasiat beliau sebagaimana yang dikatakan oleh putranya Abdul Lathif, agar jenazahnya dibawa dari rumahnya ketempat pemakaman dengan cara dipikul, setelah para pelayat melepaskan kepergian beliau, kami segera keluar dari rumah untuk menshalatkannya.

Demikian sang Imam dan tokoh ini kembali kepada Rabbnya Tabaraka wata`ala dengan meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat, tergores di sela-sela ratusan karya tulisnya yang kemudian Allah mentakdirkannya diterima di seantero dunia bahkan sebagiannya telah diterjemahkan ke beragam bahasa di dunia ini. Demikian pula beliau telah meninggalkan sejumlah muridnya yang berjalan diatas manhaj salaf yang dianutnya selama hidup beliau. Semoga dengan pertolongan Allah swt merekapun akan berjalan diatasnya hingga datangnya ajal.

Kenangan Bersama Syaikh

Aku mengenal beliau rahimahullah semenjak 23 tahun yang lalu. Usiaku pada saat itu menginjak empat belas tahun. Sungguh Allah swt telah menganugerahi aku nikmat dan karunia-Nya sejak aku mengenal manhaj salaf dan mencintainya. Tidak pernah kutinggalkan setiap jalan yang menunjukku kepadanya, kecuali kutempuhnya. Aku berkenalan dengan murid-murid syaikh, duduk dan berteman dengan mereka. Aku mulai membeli kitab-kitab syaikh dan kitab yang pertama kubeli adalah “shifat shalat Nabi saw”. Aku selalu menanti kedatangan Syaikh dari negeri Syam sebagaimana biasa untuk menyampaikan kajian-kajian.

Pada tahun 1980, Syaikh berhijrah dari negeri Syria ke Amman (Yordania). Yang kemudian menjadi tempat domisilinya. Beliau memilih tinggal di perkampungan yang sederhana. Ia pernah ditawari sebidang tanah oleh seorang kaya yang terletak di sekitar kota Amman , namun tetap ditolaknya dan berkeras untuk tetap tinggal di tengah–tengah kaum muslimin yang berekonomi lemah. Kota Amman pun gembira atas kedatangan Syaikh sebagaimana para pecintanya. Selama enam tahun telah kulalui bersama Syaikh di rumahnya, setiap hari selalu kudapati ilmu sebagaimana aku pun telah belajar darinya tentang akhlaq. Maka apakah yang hendak kuceritakan?

Keperibadian Da’ie Sang Syaikh

Syaikh rahimahullah adalah seorang yang penuh kasih sayang dan belas kasihan. Sekali waktu pernah beliau katakan padaku:

“Hai Muhammad, engkau tidak memiliki kendaraan (mobil), sementara putra-putrimu perlu beristirahat (bertemasya), maka siapkan hari apa saja yang kamu inginkan, kita akan pergi bersama agar kamu bersenang-senang bersama mereka. Dua hari kemudian, kami siapkan apa yang diperlukan, lalu keluar bersama syaikh dan istrinya ke sebuah tempat tamasya di luar kota Amman . Dan beliau membawa makanan serta beraneka buah-buahan sehingga anak-anakku sangat gembira.”

Suatu ketika aku pernah bekerja dan memperbaki pada bagian atap rumah Syaikh. Aku mengangkat dan memindahkan sebuah kayu besar, hingga aku merasa keberatan dan hampir terjatuh dari atap rumah, kalau saja bukan karena karunia Allah swt padaku. Mendengar peristiwa itu, Syaikh segera memuji Allah swt atas keselamatanku dan langsung menyungkur bersujud kepada Allah swt mensyukuri-Nya, sedang kedua matanya mengucurkan air mata, menangisi kejadian ini. Lalu dikeluarkan dari sakunya sebanyak seratus dinar dan diberikannya kepadaku.

Syaikh رحمه الله adalah seorang yang berperangai wara` yaitu selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Pernah suatu ketika beliau menjadi penengah bagi seorang yang ingin bekerja di salah satu perusahaan persero. Selang beberapa hari, orang tersebut mengetuk pintu rumah beliau sambil membawa sejumlah buah zaitun dan menuturkan kepadaku :

“Ini adalah hadiah untuk Syaikh”, pada waktu itu Syaikh sedang tidur.

Setelah bangun dari tidurnya kusampaikan amanat orang itu. Dengan serta merta Syaikh bertutur:

“Tidak halal bagi kita untuk memakannya, karena telah disabdakan oleh Rasulullah saw” (yang artinya) :“Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberikan kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti dia telah mendatangi salah satu pintu riba”.Maka kami segera membagi-bagikannya kepada para fuqara`”

Kedermawanan Syaikh Al-Albani rahimahullah

Sering kali aku anjurkan Syaikh untuk membangun masjid, atau memberi kepada seorang fakir atau para janda atau seorang peminta-minta, dan tidak pernah beliau menolak. Banyak cerita dalam masalah ini di antaranya :

“Pernah datang kepada beliau seorang penderita sakit yang pengobatannya dengan menggunakan suntikan. Ia harus disuntik sebanyak 15 kali dengan biaya setiap suntikan 20 dinar. Syaikh menyuruh aku untuk meneliti kebenaran dakwaannya. Setelah mengetahui kebenarannya, beliau memberi kepadaku biaya yang dibutuhkan lalu kubelikan suntikan tersebut”.

Ketika hendak membangun rumahku aku memerlukan dana, maka kudatangi beberapa rumah dan mengetuk pintu-pintu mereka (untuk meminta pinjaman, pent) namun hasilnya nihil. Aku teringat seorang yang cukup mampu, dia dikenal oleh Syaikh. Maka kukatakan kepada istrinya:

“Tolong sampaikan kepada Syaikh jika beliau berkenan menjadi perantaraku agar orang itu memberiku pinjaman.”

Keesokan harinya ketika aku sedang duduk dikantorku. Syaikh berkata :

“Ya Muhammad! engkau menghendaki agar aku menjadi penengahmu terhadap si fulan agar dia memberimu pinjaman?”.

Aku bertukas : “benar”.

Lalu kata Syaikh rahimahullah :

“Aku lebih utama terhadapmu dari pada orang itu, aku berikan kepadamu seberapa yang kamu perlukan.”

Aku pun menangis lalu kukatakan padanya:

“Ya Syaikh kami, semoga Allah swt membalas kebaikanmu.”

Demi Allah swt tidak pernah terdetik dalam hatiku bahwa apa yang kucari akan kudapati dari Syaikh karena aku tidak pernah melihat apa yang ada padanya. Ketika dana pinjaman itu diberikan padaku beliau berkata:

“Yang seribu dinar ini sebagai hadiah untukmu, tidak terhitung sebagai pinjaman.”

Aku pun menangis untuk kedua kalinya, semoga Allah swt membalasnya rahimahullah.

Kisah yang lain:

Belum lama ini ketika beliau berada di rumah sakit, datang seorang wanita mengadu padanya tentang terjeratnya dalam cengkraman bunga bank. Karena ia mengambil pinjaman dari salah satu bank sebanyak 9000 dinar, dan bunganya telah melipatgandakan hutang tersebut. Ia datang kepada Syaikh, untuk meminta bantuan agar terlepas darinya.

Sebagaimana kebiasaannya, Syaikh meminta kepadaku untuk meneliti kasus ini. Setelah diteliti dengan seksama kebenarannya, beliau menyetujui untuk meminjamkannya dana sebesar 7000 dinar. Wanita itu datang bersama putra-putranya. Lalu Syaikh berkata :

“Yang seribu dinar sebagai hadiah dan yang selebihnya sebagai pinjaman yang dibutuhkan.”

Alangkah girangnya wanita itu dan anak-anaknya. Mereka mendo’akan Syaikh rahimahullah, demikian pula aku ikut mendo’akannya “semoga Allah swt membalas kebaikanmu ya Syaikh.”

Kemudian Syaikh memandang kami seraya berkata:

“Yaa ikwan wallaahi inni atamanna an ashbaha milyuuniiran, hatta ukhrijaaluluufa min amstali hadzihi almar’a min kuyuudi arriba (Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, aku berangan-angan menjadi seorang “jutawan” hingga dapat melepaskan ribuan muslim yang senasib dengan wanita ini dari jeratan riba).”

Kelembutan Dan Belas Kasihan Syaikh rahimahullah

Pernah suatu ketika istriku hampir melahirkan. Sementara Syaikh selalu bertanya tentangnya. Sehari sebelum istriku melahirkan bayinya, tatkala aku akan meninggalkan perpustakaan, beliau berkata kepadaku:

“Silakan ambil mobil ummul Fadhl [1] karena mungkin kamu memerlukannya di tengah malam.”

Mobil itu kubawa selama dua hari dan ternyata benar, saat melahirkan tiba ditengah malam. Aku keluar dari rumahku, aku tidak tahu hendak pergi kemana? setelah berupaya mencari seorang bidan dan tidak kutemukan, terfikir olehku bahwa istri Syaikh rahimahullah memiliki pengalaman dalam hal kelahiran. Aku segera menuju ke rumah beliau, sedang aku dirundung keragu-raguan karena khawatir akan mengganggu dan mengejutkannya di saat-saat seperti ini. Aku mengetuk pintu rumahnya, beliaupun menjawabku, lalu kusampaikan kepadanya permohonan maafku yang sebesar-besarnya dan memberitahukan keperluanku.

Beliau menjawabku sambil bercanda :

“Mengapa kamu tidak lakukan seperti Syaikhmu? sungguh aku telah membantu sendiri istriku ketika melahirkan.”

Lalu beliau melanjukkan dengan mengucapkan:

“Sebentar!! aku akan membangunkan Ummu Fadhl, dia akan pergi bersamaku.”

Lalu kami pun diberi oleh Allah swt seorang putra bernama Abdullah.

Mobil Syaikh Al-Albani

Adapun mobil beliau ibarat sekor unta yang selalu mengantar teman-teman kami. Beliau mengangkut mereka dan membawanya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Beliau katakan padaku :

“Ya Muhammad, ayahku rahimahullah pernah berkata :likulli syaiin zakaatun, wazakaatus sayaarati : hamlunnaasi biha (setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat mobil adalah mengangkut orang).”

Mutiara Hikmah Syaikh Al Albani rahimahullah

“Itmaamul ma’ruf khairun minal bad i bihi (Menyempurnakan suatu yang ma`ruf lebih baik dari pada memulainya)”

Ini adalah mutiara hikmah yang kami ambil dari beliau, dan alangkah indahnya hikmah ini.

Syaikh Al-Albani seorang yang selalu memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya, sehingga seorang merasa cukup dengan sesuatu dari bantuan beliau. Syaikh merasa senang dan selalu bertekad untuk menyempurnakan bantuannya. Namun orang yang dibantu segera berkata :

“Menyempurnakan sesuatu yang ma’ruf lebih baik dari memulainya.”

Banyak ilmu yang kami dapat dari mutiara hikmah ini dalam bermu’amalah dengan saudara-saudara kami. Inilah hal penting yang dapat kusajikan untuk para pembaca dari sela-sela kehidupanku bersama beliau selam 6 tahun. Bisa jadi musibah kematian Syaikh membuatku lupa akan banyak hal.

Saya yakin bahwasanya banyak peristiwa dan sikap-sikap Syaikh yang wajib kucatat sebagai sebuah catatan bersejarah untuk memenuhi hak-hak Syaikh rahimahullah. Semoga Allah swt merahmatimu wahai Syaikh kami, dengan rahmat yang luas.

“Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali)”


[1] Ummul fadhl adalah istri Al-Albani yang keempat. Maraji’:Majalah al-Ashalah 23 hal: 55-58

 

Abdullah Azzam, Mujahid Afghanistan Yang Menemui Syahid 25/11/2008

Filed under: Tokoh — abusyakirin @ 2:46 am

Setelah lengkap berpakaian, pada tengah hari Jumaat, 24 November 1989, Abdullah Azzam bersama 2 orang anaknya, Muhammad dan Ibrahim melangkah keluar dari rumahnya untuk menyampaikan khutbah Jumaat di Masjid Sab’ul lail di Pakistan.

Mereka menggunakan kenderaan untuk ke masjid tersebut. Perjalanan ke masjid dari rumah beliau tidaklah jauh. Hanya kira-kira 10 minit menaiki kenderaan. Setelah lima minit Abdullah Azzam dan 2 orang anaknya meninggalkan rumah kediaman mereka, satu letupan kuat dan menggegarkan mengejutkan orang ramai di sekitar kawasan tersebut.

Orang-orang berhamburan keluar dari masjid dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Hanya sedikit saja yang tersisa dari kendaraan yang hancur lebur. Tubuh anaknya yang kecil, Ibrahim, terlempar ke udara sejauh 100 meter, demikian pula anaknya seorang lagi, beterbangan pada jarak yang hampir sama. Potongan-potongan tubuh mereka tersebar di pohon-pohon dan kawat-kawat listrik. Sementara tubuh As-Syahid Syeikh Abdullah Azzam tersandar di dinding, tetap utuh dan tidak cacat sama sekali, kecuali sedikit darah terlihat mengalir dari mulut beliau.

“Kecintaan pada jihad telah menguasai hidupku, jiwaku, perasaanku, hatiku, dan segenap inderaku.”

Begitulah Abdullah Azzam, salah satu putera terbaik Palestin, mengungkapkan kecintaannya pada jihad. Beliau ialah ulama yang mendakwahkan jihad dan memasukkannya ke rumah-rumah kaum muslimin. Menyalakan api jihad dalam dada ribuan pemuda Islam, lalu membawa nyala jihad itu ke Afganistan dan ke seluruh penjuru dunia.

Beliau ialah mujahid yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk berjihad di jalan Allah. Ahli zuhud yang berpaling dari kemewahan dunia dan memilih kenikmatan medan jihad. Ratusan tulisan dan pidatonya, oleh para ulama dan cendekiawan muslim di dunia, diakui mampu menghidupkan roh baru dalam diri umat. Seolah-olah beliau dipilih Allah SWT untuk menegakkan kembali kewajiban yang telah dilupakan sebagian besar umat Islam, iaitu jihad.

Beliaulah yang menyedarkan umat, jihad ialah nyawa dan eksistensi ummat Islam. Dalam sebuah wasiatnya beliau mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang beranggapan bahwa agama Allah akan jaya tanpa jihad dan perang, tanpa titisan darah dan luka-luka tubuh mereka adalah para pemimpi yang tidak tahu tabiat agama ini. Jihad adalah tulang punggung dakwah kalian, benteng agama kalian dan perisai syariat kalian”

Abdullah Azzam ialah cahaya pada wajah umat abad dua puluh. Ketokohannya dalam membawa umat memahami cara hidup yang dikehendaki Islam sangat besar. Dialah yang menghidupkan sunnah Rasulullah s.a.w.. dan menyatukan madrasah (tempat menuntut ilmu) dengan mu`askar (tempat latihan perang). Menyatukan masjid dengan medan tempur. Dan menyatukan ucapan dengan perbuatan. Dia bukan ulama biasa, namun ulama dan mujahid besar yang pantas mendapat gelaran syeikhul jihad abad 20. Namanya pantas disejajarkan dengan Abdullah bin Mubarak dan Izzuddin bin Abdussalam.

Lahirnya

Abdullah Azzam lahir pada tahun 1941 di desa Asba’ah Al-Hariyeh, Jenin, Palestin yang diduduki Israel. Beliau dibesarkan di sebuah rumah yang bersahaja dimana beliau dididik Agama Islam, ditanamkan kecintaan terhadap Allah SWT dan RasulNya s.a.w., terhadap mujahid yang berjuang di jalan-Nya, dan terhadap orang-orang yang shaleh yang mencintai kehidupan akhirat.

Semasa masih kanak-kanak, Abdullah Azzam sangat menonjol di antara kanak-kanak lainnya. Beliau sudah mulai menyiarkan dakwah Islam semenjak masih sangat muda. Teman-teman sepergaulan mengenal beliau sebagai seorang anak yang soleh. Beliau telah menunjukkan tanda-tanda yang luar biasa sejak muda dan guru-guru beliau telah mengenali tanda-tanda itu sejak beliau masih di Sekolah Dasar.

Pendidikannya

Syeikh Abdullah Azzam dikenal kerana ketekunan dan kesungguhannya bahkan sejak masih kecil. Beliau memperoleh pendidikan dasar dan menengah di desanya dan kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanian Khadorri hingga memperoleh gelar. Meskipun beliau yang termuda di antara teman-temannya, namun beliau adalah yang terpandai dan terpintar.

Setelah menamatkan pendidikannya di Khadorri beliau bekerja sebagai guru di desa Adder, Jordan Selatan. Kemudian beliau menuntut ilmu di Fakulti Syariah Universiti Damsyik Suriah hingga memperoleh gelar B.A (sarjana muda) di bidang Syariah pada tahun 1966. Ketika tentara Yahudi merebut Tebing Barat pada tahun 1967, Syeikh Abdullah Azzam memutuskan untuk pindah ke Jordan, kerana beliau tidak ingin hidup di Palestin yang berada di bawah pendudukan Yahudi. Melihat bagaimana tentera-tentera Israel maju memasuki Tebing Barat tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti menimbulkan perasaan bersalah dalam diri beliau sehingga membuat beliau makin mantap untuk hijrah dengan maksud agar dapat mempelajari ilmu perang.

Kesedaran Jihad dan Menyertai Jihad Afghanistan

Saat Syeikh Abdullah Azzam menyedari bahawa hanya dengan kekuatan yang terorganisir umat ini bisa menggapai kemenangan, lalu jihad dan senjata adalah kesibukan dan pengisi waktu luangnya.

“Jihad hanya dengan senjata, tidak dengan negosiasi, tidak dengan perundingan damai, tidak dengan dialog”

Kalimat tersebut menjadi semboyan beliau. Beliau praktikkan apa yang selalu beliau kumandangkan, sehingga membuat beliau menjadi salah satu di antara orang Arab pertama yang bergabung dalam jihad di Afghanistan melawan Uni Soviet yang komunis.

Pada tahun 1980, ketika masih di Saudi Arabia, Abdullah Azzam memperoleh kesempatan berjumpa dengan satu delegasi mujahidin Afghanistan yang datang untuk menunaikan ibadah haji. Segera beliau tertarik dengan kelompok ini dan ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai jihad Afghanistan. Ketika dijabarkan kepadanya, beliau merasa inilah yang sejak lama beliau cari-cari.

Beliau segera melepaskan jabatannya sebagai dosen di Universiti King Abdul Aziz Jeddah Saudi Arabia, dan berangkat menuju Islamabad Pakistan agar dapat lebih dekat dengan jihad Afghanistan, dan di sanalah beliau mengenal pemimpin-pemimpin mujahidin. Saat-saat pertama berada di Pakistan, beliau ditunjuk untuk memberikan kuliah di International Islamic Universiti di Islamabad. Namun tidak lama ini berlangsung, karena beliau memutuskan untuk meninggalkan universitas agar bisa mencurahkan seluruh waktu dan energinya untuk jihad di Afghanistan.

Pada permulaan dekad 1980-an, Syeikh Abdullah Azzam langsung turun ke medan jihad Afghanistan. Di jihad inilah beliau merasa puas bisa memenuhi kerinduan dan cinta yang tak terlukiskan untuk berjuang di jalan Allah SWT, persis seperti suatu kali Rasulullah SAW bersabda:


قيام ساعة في الصف للقتال في سبيل الله خير من قيام ستين سنة

“Berdiri satu jam dalam pertempuran di jalan Allah SWT lebih baik daripada berdiri menunaikan solat selama enam puluh tahun”

Terinspirasi oleh hadis ini, Syeikh Abdullah Azzam beserta keluarganya memutuskan pindah ke Pakistan agar lebih dekat dengan medan jihad. Tidak lama setelah itu beliau pindah lagi dari Islamabad ke Peshawar supaya bisa lebih dekat lagi dengan medan jihad dan syahid.

Di Afghanistan beliau jarang menetap di suatu tempat. Beliau selalu berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh propinsi dan wilayah seperti Logar, Kandahar, pegunungan Hindukush, lembah Panshir, Kabul dan Jalalabad. Dalam kunjungan ini, Syeikh Abdullah Azzam menyaksikan secara langsung kepahlawanan orang-orang awam yang telah mengorbankan segala apa yang dimiliki termasuk jiwa mereka demi jayannya Dien Islam.

Di Peshawar, setelah kembali dari berkeliling, Syeikh Abdullah Azzam selalu berbicara tentang jihad secara kontinyu. Beliau selalu berdoa agar para Komandan Mujahidin yang terpecah belah dapat bersatu padu. Beliau selalu mengundang orang-orang yang belum bergabung dalam pertempuran untuk memanggul senjata dan maju ke garis depan sebelum terlambat.

Seorang Yang Berperilaku Islami

Syeikh Abdullah Azzam adalah contoh seorang yang berperilaku Islami dengan baik, dengan amal solehnya, dengan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan dengan kesederhanaannya dalam segala hal. Beliau tidak pernah mencemari hubungan baiknya dengan orang lain. Syeikh Abdullah Azzam selalu mendengarkan pendapat para pemuda, beliau amat disegani dan tidak terbersit sedikitpun rasa takut di dalam hatinya. Beliau selalu berpuasa selang seling hari seperti yang dilakukan Nabi Daud ‘alaihi salam. Dan juga selalu menghimbau yang lainnya untuk berpuasa Senin dan Kamis. Syeikh Abdullah Azzam adalah orang yang selalu berterus terang, tulus, dan mulia. Beliau tidak pernah mencaci orang lain atau berbicara yang tidak baik mengenai orang lain.

Syahid Dengan Cara Gemilang

Musuh-musuhpun semakin berhasrat melaksanakan rencana gilanya. Mereka mencubanya sekali lagi di Peshawar, tidak lama berselang setelah kejadian tersebut. Ketika itulah Allah SWT berkehendak agar Syeikh Abdullah Azzam meninggalkan dunia ini dalam keadaan syahid menuju haribaaan-Nya (kita berharap demikian, Insya Allah SWT). Dan Syeikh Abdullah Azzam wafat dengan cara yang gemilang pada hari Jumat 24 November 1989 pukul 12.30 tengah hari.

Musuh-musuh Allah SWT meletakkan tiga bom di jalan sempit dimana hanya bisa dilewati satu kenderaan saja. Jalan tersebut adalah jalan yang biasa dilalui oleh Syeikh Abdullah Azzam untuk menunaikan solat Jumaat. Pada hari Jumaat itu Syeikh Abdullah Azzam bersama dengan 2 anaknya, Ibrahim dan Muhammad, serta salah seorang anak Syuhada Syeikh Tamim Adnani (salah seorang pahlawan jihad Afghanistan lainnya), melalui jalan tersebut. Kenderaanpun berhenti dimana bom yang pertama berada dan Syeikh Abdullah Azzam turun untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Musuh-musuh yang sudah menanti segera memicu bom yang telah mereka persiapkan tersebut. Bunyi ledakan dahsyat menggoncang hebat terdengar di seluruh penjuru kota.

Orang-orang berhamburan keluar dari masjid dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Hanya sedikit saja yang tersisa dari kendaraan yang hancur lebur. Tubuh anaknya yang kecil, Ibrahim, terlempar ke udara sejauh 100 meter, demikian pula kedua anak lainnya, beterbangan pada jarak yang hampir sama. Potongan-potongan tubuh mereka tersebar di pohon-pohon dan kawat-kawat listrik. Sementara tubuh As-Syahid Syeikh Abdullah Azzam tersandar di dinding, tetap utuh dan tidak cacat sama sekali, kecuali sedikit darah terlihat mengalir dari mulut beliau.

Ledakan itu telah mengakhiri perjalanan hidup Syeikh Abdullah Azzam di dunia yang telah beliau lalui dengan baik melalui perjuangan, daya upaya sepenuhnya dan pertempuran di jalan Allah SWT. Hal ini semakin menjamin kehidupannya yang sebenarnya dan abadi di taman syurga – kita memohon kepada Allah SWT demikian – , dan menikmatinya bersama dengan teman-teman yang mulia yakni:


وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya mereka ini akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah SWT, yaitu para Rasul, para Shiddiqiin, orang-orang yang mati Syahid dan orang-orang soleh. Dan mereka inilah teman yang sebaik-baiknya”. (QS An-Nisaa’: 69)

Pengurusan Jenazahnya

Apabila orang ramai mengetahui bahawa yang terbunuh itu ialah Abdullah Azzam, ramai di antara mereka menitiskan air mata. Orang ramai kemudiannya membantu membawa mayat beliau dan 2 orang anaknya ke hospital yang berdekatan.

Setelah doktor mengesahkan ketiga-tiga mereka itu tidak lagi bernyawa, maka jenazah tersebut kemudiannya dibawa ke rumah rakan seperjuangan beliau, pemimpin Ittihad Islami, Abdul Rabbir Rasul Sayyaf sementara menunggu untuk dikebumikan.

Dalam pada itu, orang ramai yang menunggu jenazah Abdullah Azzam dan anaknya, terbau haruman kasturi daripada bilik tempat jenazah mereka ditempatkan. Ini menguatkan lagi keyakinan mereka, bahawa Abdullah Azzam serta 2 orang anaknya, dicabut nyawa oleh Allah sebagai seorang syuhada. Haruman tersebut ialah salah satu petanda bahawa perjuangan Abdullah Azam telah mencapai matlamat yang sering dirindukannya.

Pada solat Maghrib malam itu, ribuan orang daripada pelbagai lapisan bangsa yang hadir untuk solat jenazah kepada jasad Abdullah Azzam berserta 2 orang anaknya itu.

Dengan cara seperti inilah pahlawan besar dan Penggerak Kebangkitan Islam meninggalkan medan jihad dan dunia ini, dan tidak akan pernah kembali lagi. Beliau dimakamkan di Makam para Syuhada Pabi di Peshawar Pakistan, dimana beliau bergabung bersama-sama dengan ratusan syuhada lainnya. Semoga Allah SWT menerima beliau sebagai syuhada dan menganugerahinya tempat tertinggi di surga (amin). Pertempuran yang telah beliau lalui dan telah beliau perjuangkan tetap berlanjut melawan musuh-musuh Islam. Tidak satupun tanah jihad di seluruh dunia, tidak seorang pun mujahidin yang berjuang di jalan Allah SWT yang tidak terinspirasi oleh hidup, ajaran, dan karya Syeikh Abdullah Azzam Rahmatullah ‘alaih

Kita memohon kepada Allah SWT untuk menerima amal ibadah beliau dan menempatkan beliau di surga tertinggi. Kita memohon kepada Allah SWT untuk membangkitkan dari umat ini ulama-ulama lain sekaliber beliau, yang menerapkan pengetahuannya di medan perjuangan, bukan hanya menyimpannya di dalam buku dan di dalam masjid saja.

Melalui biografi ini, telah dirakam kejadian-kejadian dalam sejarah Islam selama sepuluh tahun terakhir dari tahun 1979 hingga 1989, dan akan terus berlanjut sebagaimana Syeikh Abdullah Azzam berkata:

“Sesungguhnya sejarah Islam tidaklah ditulis melainkan dengan darah para syuhada, dengan kisah para syuhada, dengan teladan para syuhada”


يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (33)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah SWT dengan mulut mereka, dan Allah SWT tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” (At-Taubah: 32-33)

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.